Kamis, 26 November 2009

Beli Ikan Cupang

Saya berharap dapat hiburan dengan memelihara cupang. Dulu waktu kanak-kanak saya pernah punya kenangan manis dengan ikan cupang saat tinggal di Setiabudi-Jakarta, terus pindah ke Kebayoran Lama. Cukup lama pelihara cupang, bisa membibit sampai anak-anaknya jadi dewasa terus dijual ke pedagang eceran, lumayan buat uang jajan. Ketika terjadi wabah massal white spot, saat itu tak tau mesti gimana, mati semua, sejak itu hingga kini saya hampir tak pernah pelihara lagi makhluk hidup, seperti trauma. Tapi kini coba lagi. Kemarin sebenernya sudah beli lele, sebagai trial saya pelihara makhluk hidup lagi. Tapi salah planning, terburu-buru. Ketika bibit lele ukuran 2-3 cm sudah datang ke rumah sebanyak 5.000 ekor, ternyata kolam yang disiapkan hasil renovasi, masih bocor. Proses pemindahan ke tempat sementara memakan korban sekitar 1500 ekor dalam 3 hari. Akhirnya lele-lele itu saya lepaskan di sebuah kolam yang meski masih tanah keluarga, tapi tidak dapat diawasi dan tampaknya harus saya ikhlaskan dipanen rame-rame kelak oleh masyarakat sekitar.

Tadi siang saya datangi toko ikan hias di bilangan Salabenda-Bogor. Lama saya disitu, mencari informasi dulu tentang ikan cupang, maklum sudah puluhan tahun,,, Akhirnya saya beli 4 ekor jantan dan 8 betina, hasil pemilihan yang cukup lama. Harga yang jantan Rp 15.000/ekor, dan yang betina Rp 2.000/ekor. Saya sungguh gelap soal harga. Di situ memang ada beberapa varian dengan variasi harga mulai dari Rp 3.000. Yang saya pilih memang yang paling mahal, ditempatkannya pun di dalam dengan wadah kaca besar, bukan toples bekas selai yang dipakai untuk ikan-ikan cupang yang lebih murah. Katanya, ini cupang adu bibit unggul. Oke lah, saya percaya aja dulu.

Ikan yang saya minati ialah ikan cupang tipe aduan, bukan ikan cupang hias. Kalo waktu kecil sih, saya tak pahami hal ini, semua diadu saja, wong ikutan anak-anak sekampung kok. Ternyata kini ada kategori hias dan aduan, mungkin kategori ini pun memang ada belakangan. Ada serit, maskot,,, apa lagi tuh, lupa. Ikan cupang aduan lah yang saya minati karena tipe inilah yang dulu memang menjadi favorit saya dan saat itu lebih dikenal sebagai "cupang bangkok", dan ikan cupang ini kalo diadu dengan yang non-bangkok, memang selalu menang. Selain itu, warnanya lebih saya suka, lebih tampak mengkilap, dengan bentuk rapi bagaikan kipas. Jadi saya pilih ikan cupang adu karena motif di atas, bukan mau adu-aduan lagi seperti waktu kanak-kanak.

Kata penjualnya, ikan-ikan cupang pada barisan yang saya pilih ialah satu indukan, alias bersodara semua. Dan induknya ialah bibit unggul yang masih turunan "luar". Saya pikir, wah, sayang dong ikan cupang ini gak kelihatan "wajah indo"-nya. Tapi namanya cupang tentu tak kenal sodara, kalo dibuka kertas pemisah antar toples pastilah pada timbul murkanya. Meski begitu, lama saya perhatikan, ada yang tampak sehat dan ada pula yang tampak kurang fit. Ada satu ekor yang akhirnya termasuk yang saya pilih, sebenarnya ukurannya lebih kecil daripada yang lainnya, tapi gayanya itu loh, meledak-ledak bangged, kemungkinan akan saya beri nama "Manihot".

Ikan cupang betina yang saya beli, ujar penjual jujur, bukan bibit unggul. Saya sempat sindir, kasih dong yang betina unggulnya, memang mau dijual berapa? Ia menggeleng, ini urusan bisnis katanya. Ternyata bukan cuma manusia, dalam urusan menjodohkan ikan cupang pun, faktor bibit-bebet-bobot harus amat diperhatikan jika memang urusannya bisnis. Saya memang percaya hal itu, namun sementara ini belum ada yang bisa saya lakukan. Yang saya pikirkan ialah, bahwa seperti halnya perkembangan manusia, selain faktor genetik maka faktor fenotip (lingkungan) pun akan mempengaruhi. Sementara belum punya sepasang bibit yang dianggap unggul, ya sambil pelajari dan praktekkan faktor fenotip apa yang bisa dimainkan.

Saya pun memilih 8 ekor cupang betina. Saya pilih yang besar, dan/atau keluar warnanya, dan/atau "galak" alias sehat. Ada satu yang besar namun agak pucat, saya duga, ini baru dikawinkan. Cukup menarik juga melihat ikan-ikan cupang betina ini. Memang mereka ini biasanya ditempatkan dalam wadah sama, tidak dipisahkan per ekor seperti jantannya. Tentu saja cupang betina ini ada yang pemurka juga, gertak sana gertak sini sambil keluarkan warnanya yang cukup memukau (meski tak seindah cupang jantan). Tapi bedanya dengan cupang jantan, hampir tak ada perkelahian serius antar cupang betina. Biasanya mereka ini hanya saling gertak beberapa saat hingga ada salahsatu yang ngacir ketakutan, jadi tak sampai jadi bentrokan fisik yang mengakibatkan luka.

Ditambah beli alat serok 2 buah, dengan diskon, walhasil saya keluar uang saat itu Rp 75.000. Oke lets go home.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar