Beli Aquaproof
Bahan ini saya beli untuk menambal nat-nat yang bocor di kolam ukuran 2x3 meter yang akan saya gunakan utk pendedaran ikan cupang. Saya beli Rp 42.000 + kuas Rp 2.000. Saya bersihkan kolam dengan sapu lidi, lap, sikat, lalu keringkan, tapi pengerjaannya baru akan saya lakukan besok hari.
Beli Aquarium & Cupang Lokal
Hari ini saya beli aquarium untuk pembibitan ikan cupang. Ukurannya sih kecil aja, sebenernya gak pantes disebut aquarium, tapi itulah istilah yang dipakai oleh penjualnya. Harganya Rp 10.000, saya beli 2 buah. Saya juga beli 2 ekor cupang adu jantan lagi @ Rp 2.500 dengan warna ekornya hijau-merah. Jadi hari ini saya belanja Rp 25.000. Tentang cupang warna ekor hijau-merah, si Abang mengatakan bahwa yang demikian ialah produk lokal yang kurang bagus "dioplos". No matter what-what, wong saya suka dengan warnanya yang menyala, maka saya beli aja.
Tes Fighting
Saya menguji "ikan cupang adu lokal" yang harganya Rp 2.500 yang baru dibeli, diadu dengan ikan cupang turunan impor yang telah saya beli sebelumnya dengan harga yang jauh lebih mahal (yaitu Rp 15.000). Saya mengadopsi "lomba ketangkasan domba" dimana adu domba tersebut dibatasi jumlah aduan kepalanya, dan aduan tersebut dihentikan segera ketika sudah ada yang luka. Hasil dari 2 partai aduan tersebut, memang cupang yang oleh Si Abang penjual disebut sebagai cupang lokal, tampak lebih rapuh ekor maupun sisiknya, kena "pagut" lawannya. Tak sampai kalah (kabur), malah masih bertarung dengan gagah berani meski sudah ada luka, sudah merupakan prestasi bagi "cupang lokal". Dengan adanya hasil ini, maka saya prioritaskan pembibitan ikan cupang pada bibit unggul yaitu ikan cupang yang harganya saya beli dengan relatif mahal.
Persiapan Kawin
Keempat cupang adu pejantan tampaknya siap untuk kawin, dengan busa-busa yang berkumpul pada daun di wadahnya masing-masing. Malam ini saya pisahkan sejumlah betina di masing2 toples (tadinya kumpul 4 ekor per wadah), sebagai "pingitan". Lalu ke-4 cupang jantan juga saya tempatkan di wadah baru ukuran besar (2 ember dan 2 aquarium yang baru saya beli) dan akan saya biarkan dulu beradaptasi hingga beberapa hari hingga mereka menyiapkan lagi sarangnya masing2. Jika lancar, prosesi perkawinan akan dilangsungkan dalam 2-3 hari lagi.
Senin, 30 November 2009
Minggu, 29 November 2009
Beli Jentik & Bikin Biakan Jentik
Ternyata kakak saya di Serang juga telah mengulang "praktek masa kecil" dengan pelihara lalu ternak ikan cupang. Katanya hingga anakan cupang mencapai dewasa lagi, tapi karena banyak keterbatasan, anakan yang mencapai dewasa hanya berjumlah belasan ekor. Ia juga mempelajari teknik pemeliharaan dan peternakan cupang ini dari sejumlah buku berseri tentang cupang. Keterbatasan utamanya ialah soal pakan yang belum bisa dicarikan alternatifnya selain pakan hidup kutu air dan jentik. Mencari kedua barang tersebut di alam (ekstraktif) tidaklah mudah. Justru yang paling mudah ialah di daerah pemukiman padat perkotaan seperti Jakarta, tempat banyak terdapat genangan limbah yang kondusif bagi pertumbuhan jentik. Jika bukan di pemukiman padat, sulit menemukan genangan demikian, apalagi jika tiba musim hujan maka genangan menjadi air mengalir.
Kakak saya juga menceritakan dari buku yang dibacanya tentang media biakan bagi jentik, yaitu dengan air cucian beras yang disimpan pada daerah-daerah tertentu yang menjadi sarang nyamuk. Demikianlah, saya laksanakan hal ini, mengisi sejumlah plastik bekas gelas aqua dengan air cucian beras dan menaruhnya di sejumlah tempat.
Karena jentik belum dapat juga, sementara konsumsi ulat oleh ikan-ikan cupang terbatas, saya pergi lagi ke tempat jual cupang dengan harapan akan menemukan jentik, dan alhamdulillah memang demikian adanya. Beberapa kali menyerok dari ember yang berisi penuh jentik, lalu dimasukkan ke dalam kantung plastik, jentik tersebut dihargakan Rp 1000. Saya pun kembali ke rumah untuk memberi makan cupang yang menyantapnya dengan lahap.
Tidak semua jentik ini saya umpankan. Saya hanya memberi dalam jumlah yang sekiranya lebih dari cukup. Sisanya saya simpan di wadah khusus yang airnya saya campuri dengan air cucian beras, dengan harapan dapat mengkonsumsi mineral dari beras tersebut, agar menjadi jentik-jentik yang gendut yang kelak akan disantap dengan lahap oleh ikan-ikan cupangku.
Kakak saya juga menceritakan dari buku yang dibacanya tentang media biakan bagi jentik, yaitu dengan air cucian beras yang disimpan pada daerah-daerah tertentu yang menjadi sarang nyamuk. Demikianlah, saya laksanakan hal ini, mengisi sejumlah plastik bekas gelas aqua dengan air cucian beras dan menaruhnya di sejumlah tempat.
Karena jentik belum dapat juga, sementara konsumsi ulat oleh ikan-ikan cupang terbatas, saya pergi lagi ke tempat jual cupang dengan harapan akan menemukan jentik, dan alhamdulillah memang demikian adanya. Beberapa kali menyerok dari ember yang berisi penuh jentik, lalu dimasukkan ke dalam kantung plastik, jentik tersebut dihargakan Rp 1000. Saya pun kembali ke rumah untuk memberi makan cupang yang menyantapnya dengan lahap.
Tidak semua jentik ini saya umpankan. Saya hanya memberi dalam jumlah yang sekiranya lebih dari cukup. Sisanya saya simpan di wadah khusus yang airnya saya campuri dengan air cucian beras, dengan harapan dapat mengkonsumsi mineral dari beras tersebut, agar menjadi jentik-jentik yang gendut yang kelak akan disantap dengan lahap oleh ikan-ikan cupangku.
Jumat, 27 November 2009
Jentik Kucari, Ganggang Kudapat
Sehari berlalu,, ternyata ikan-ikan cupangku tak menyukai menu sejenis ulat (lintah?) yang kutemukan dari limbah rumahtangga dapur rumahku. Banyak yang tersisa, padahal perut mereka tak penuh. Lain halnya setahuku, jika pada mereka dihidangkan jentik melimpah. Maka saya pun pakai motor menuju sebuah setu dan perkampungan sekitarnya, berharap menemukan jentik atau kutu air.
Benar dugaanku. Tak banyak kubangan (genangan tak mengalir) di daerah sini. Padahal habitat demikianlah yang biasanya dihuni oleh jentik dan kutu air. Di setu pun demikian pula, saya tak menemukan jentik, kutu air, atau organisme berukuran kecil sejenis. Surprisingly, saya temukan ganggang, yang meski tak cukup banyak dan agak sulit, akhirnya saya bisa mengumpulkan sejumlah untai ganggang segar. Saya ingat dulu, saya suka sekali melihat toples ikan cupang berisi ganggang, seakan tak lengkap tanpanya.
Siap Kawin?
Sementara itu, 3 dari 4 cupang jantanku sudah mengumpulkan banyak buih pada daun yang sengaja saya taruh kemarin. Artinya, sudah pada siap kawin. Cuma satu yang tak demikian. Sementara itu, cupang-cupang betinanya tampaknya makin sehat aja. Jika kemarin ada beberapa ekor yang pucat, maka hari ini tinggal satu saja. Saya memang sungguh kuatir bahwa ikan-ikan itu shock dengan kondisi barunya, entah air atau apa, sehingga kondisinya langsung menurun lalu mati. Sukurlah, gejalanya malah makin membaik.
Perbaiki Kolam dengan Aquaproof?
Temanku datang berkunjung tadi, yang sebelumnya secara sambil lalu saya beritahu ttg kondisi kolamku yang sudah lama tak terpakai dan ternyata bocor. Ia menemukan sejumlah titik kebocoran pada nat keramik yang dipakai sebagai dasar. Ia pun menyarankan pemakaian bahan seperti Aquaproof. Saya gembira mendengar penjelasan ini, karena semula terpikirkan bahwa saya harus melapis ulang semua bagian permukaan kolam ini, demi amannya.
Benar dugaanku. Tak banyak kubangan (genangan tak mengalir) di daerah sini. Padahal habitat demikianlah yang biasanya dihuni oleh jentik dan kutu air. Di setu pun demikian pula, saya tak menemukan jentik, kutu air, atau organisme berukuran kecil sejenis. Surprisingly, saya temukan ganggang, yang meski tak cukup banyak dan agak sulit, akhirnya saya bisa mengumpulkan sejumlah untai ganggang segar. Saya ingat dulu, saya suka sekali melihat toples ikan cupang berisi ganggang, seakan tak lengkap tanpanya.
Siap Kawin?
Sementara itu, 3 dari 4 cupang jantanku sudah mengumpulkan banyak buih pada daun yang sengaja saya taruh kemarin. Artinya, sudah pada siap kawin. Cuma satu yang tak demikian. Sementara itu, cupang-cupang betinanya tampaknya makin sehat aja. Jika kemarin ada beberapa ekor yang pucat, maka hari ini tinggal satu saja. Saya memang sungguh kuatir bahwa ikan-ikan itu shock dengan kondisi barunya, entah air atau apa, sehingga kondisinya langsung menurun lalu mati. Sukurlah, gejalanya malah makin membaik.
Perbaiki Kolam dengan Aquaproof?
Temanku datang berkunjung tadi, yang sebelumnya secara sambil lalu saya beritahu ttg kondisi kolamku yang sudah lama tak terpakai dan ternyata bocor. Ia menemukan sejumlah titik kebocoran pada nat keramik yang dipakai sebagai dasar. Ia pun menyarankan pemakaian bahan seperti Aquaproof. Saya gembira mendengar penjelasan ini, karena semula terpikirkan bahwa saya harus melapis ulang semua bagian permukaan kolam ini, demi amannya.
Kamis, 26 November 2009
Penempatan Ikan Cupang di Rumah
Bawa cupang ke rumah, 4 jantan dan 8 betina, saya segera cari wadah kaca yang biasa buat kue. Wadah sebesar ini memang seukuran wadah asalnya di tempat penjual, bukan wadah kecil bekas toples selai. Untuk betina, saya pisahkan ke dalam 2 wadah seukuran ember, masing-masing 4 ekor. Di wadah besar yang satu, ada 2 betina binal yang sering menggertak, sementara 2 yang lain tampak agak pucat dan banyak mengalah. Di wadah yang lainnya terjadi kompetisi yang lebih ketat karena disitu ada 3 betina yang binal, eh sehat, yang saling menggertak.
Cari makannya? Ini memang belum terpikirkan sebelumnya (lagi-lagi, terburu-buru,,). Untung ada genangan air limbah yang berisi sejenis ulat, saya cobakan, nampak disantap dengan nikmat oleh ikan-ikan cupang itu. Moga gada masalah besoknya. Saya memang harus segera mencari solusi bagaimana bisa mudah mendapatkan jentik-jentik atau kutu air. Apakah saya akan membuat biakan sendiri, atau mencari di daerah sekitar. Mencari jentik-jentik dan kutu air di sini mungkin tak semudah menemukannya di kota. Di kota banyak genangan limbah yang menjadi tempat yang kondusif bagi jentik dan/atau kutu air untuk berbiak. Sedangkan di daerah saya yang kampung ini, memang sih banyak rawa, ada Setu Bilabong, Telaga Kahuripan, Pabuaran,, tapi setahu saya tempat seperti itu jarang ada jentik atau kutu airnya.
Ikan-ikan cupang tersebut saya tempatkan di tepi kolam kering, tepat di tepi kamar saya. Semoga bisa saya pantau terus, kuatir ada makhluk iseng, kucing misalnya, yang gak paham bahwa ikan itu lebih mahal daripada ikan bandeng yang biasa dia intai di dapur.
Demikianlah,, saya memang wirausaha,, kegiatan saya banyak di kamar dengan komputer dan internet. Maksud saya pelihara cupang itu utk refreshing, karena sering jenuh dan lelah,,, Selain untuk refreshing, saya juga berharap bahwa kalo ikan-ikan itu bisa dipelihara dengan baik, maka harganya bisa melonjak, dan relatif tiada batasan jelas untuk ini, namanya juga hobi. Mengingat pengalaman saya dulu, hal ini mungkin saja. Sambil tawarin juga di internet. Minggu depan moga bisa mulai syuting, cupang-cupangku ini harus segera action dalam show "cupang the movie". Karena itu dalam seminggu ini saya harus menyiapkan dulu nama-nama untuk mereka ini. Ayo cupangku, dunia menunggumu!
Cari makannya? Ini memang belum terpikirkan sebelumnya (lagi-lagi, terburu-buru,,). Untung ada genangan air limbah yang berisi sejenis ulat, saya cobakan, nampak disantap dengan nikmat oleh ikan-ikan cupang itu. Moga gada masalah besoknya. Saya memang harus segera mencari solusi bagaimana bisa mudah mendapatkan jentik-jentik atau kutu air. Apakah saya akan membuat biakan sendiri, atau mencari di daerah sekitar. Mencari jentik-jentik dan kutu air di sini mungkin tak semudah menemukannya di kota. Di kota banyak genangan limbah yang menjadi tempat yang kondusif bagi jentik dan/atau kutu air untuk berbiak. Sedangkan di daerah saya yang kampung ini, memang sih banyak rawa, ada Setu Bilabong, Telaga Kahuripan, Pabuaran,, tapi setahu saya tempat seperti itu jarang ada jentik atau kutu airnya.
Ikan-ikan cupang tersebut saya tempatkan di tepi kolam kering, tepat di tepi kamar saya. Semoga bisa saya pantau terus, kuatir ada makhluk iseng, kucing misalnya, yang gak paham bahwa ikan itu lebih mahal daripada ikan bandeng yang biasa dia intai di dapur.
Demikianlah,, saya memang wirausaha,, kegiatan saya banyak di kamar dengan komputer dan internet. Maksud saya pelihara cupang itu utk refreshing, karena sering jenuh dan lelah,,, Selain untuk refreshing, saya juga berharap bahwa kalo ikan-ikan itu bisa dipelihara dengan baik, maka harganya bisa melonjak, dan relatif tiada batasan jelas untuk ini, namanya juga hobi. Mengingat pengalaman saya dulu, hal ini mungkin saja. Sambil tawarin juga di internet. Minggu depan moga bisa mulai syuting, cupang-cupangku ini harus segera action dalam show "cupang the movie". Karena itu dalam seminggu ini saya harus menyiapkan dulu nama-nama untuk mereka ini. Ayo cupangku, dunia menunggumu!
Beli Ikan Cupang
Saya berharap dapat hiburan dengan memelihara cupang. Dulu waktu kanak-kanak saya pernah punya kenangan manis dengan ikan cupang saat tinggal di Setiabudi-Jakarta, terus pindah ke Kebayoran Lama. Cukup lama pelihara cupang, bisa membibit sampai anak-anaknya jadi dewasa terus dijual ke pedagang eceran, lumayan buat uang jajan. Ketika terjadi wabah massal white spot, saat itu tak tau mesti gimana, mati semua, sejak itu hingga kini saya hampir tak pernah pelihara lagi makhluk hidup, seperti trauma. Tapi kini coba lagi. Kemarin sebenernya sudah beli lele, sebagai trial saya pelihara makhluk hidup lagi. Tapi salah planning, terburu-buru. Ketika bibit lele ukuran 2-3 cm sudah datang ke rumah sebanyak 5.000 ekor, ternyata kolam yang disiapkan hasil renovasi, masih bocor. Proses pemindahan ke tempat sementara memakan korban sekitar 1500 ekor dalam 3 hari. Akhirnya lele-lele itu saya lepaskan di sebuah kolam yang meski masih tanah keluarga, tapi tidak dapat diawasi dan tampaknya harus saya ikhlaskan dipanen rame-rame kelak oleh masyarakat sekitar.
Tadi siang saya datangi toko ikan hias di bilangan Salabenda-Bogor. Lama saya disitu, mencari informasi dulu tentang ikan cupang, maklum sudah puluhan tahun,,, Akhirnya saya beli 4 ekor jantan dan 8 betina, hasil pemilihan yang cukup lama. Harga yang jantan Rp 15.000/ekor, dan yang betina Rp 2.000/ekor. Saya sungguh gelap soal harga. Di situ memang ada beberapa varian dengan variasi harga mulai dari Rp 3.000. Yang saya pilih memang yang paling mahal, ditempatkannya pun di dalam dengan wadah kaca besar, bukan toples bekas selai yang dipakai untuk ikan-ikan cupang yang lebih murah. Katanya, ini cupang adu bibit unggul. Oke lah, saya percaya aja dulu.
Ikan yang saya minati ialah ikan cupang tipe aduan, bukan ikan cupang hias. Kalo waktu kecil sih, saya tak pahami hal ini, semua diadu saja, wong ikutan anak-anak sekampung kok. Ternyata kini ada kategori hias dan aduan, mungkin kategori ini pun memang ada belakangan. Ada serit, maskot,,, apa lagi tuh, lupa. Ikan cupang aduan lah yang saya minati karena tipe inilah yang dulu memang menjadi favorit saya dan saat itu lebih dikenal sebagai "cupang bangkok", dan ikan cupang ini kalo diadu dengan yang non-bangkok, memang selalu menang. Selain itu, warnanya lebih saya suka, lebih tampak mengkilap, dengan bentuk rapi bagaikan kipas. Jadi saya pilih ikan cupang adu karena motif di atas, bukan mau adu-aduan lagi seperti waktu kanak-kanak.
Kata penjualnya, ikan-ikan cupang pada barisan yang saya pilih ialah satu indukan, alias bersodara semua. Dan induknya ialah bibit unggul yang masih turunan "luar". Saya pikir, wah, sayang dong ikan cupang ini gak kelihatan "wajah indo"-nya. Tapi namanya cupang tentu tak kenal sodara, kalo dibuka kertas pemisah antar toples pastilah pada timbul murkanya. Meski begitu, lama saya perhatikan, ada yang tampak sehat dan ada pula yang tampak kurang fit. Ada satu ekor yang akhirnya termasuk yang saya pilih, sebenarnya ukurannya lebih kecil daripada yang lainnya, tapi gayanya itu loh, meledak-ledak bangged, kemungkinan akan saya beri nama "Manihot".
Ikan cupang betina yang saya beli, ujar penjual jujur, bukan bibit unggul. Saya sempat sindir, kasih dong yang betina unggulnya, memang mau dijual berapa? Ia menggeleng, ini urusan bisnis katanya. Ternyata bukan cuma manusia, dalam urusan menjodohkan ikan cupang pun, faktor bibit-bebet-bobot harus amat diperhatikan jika memang urusannya bisnis. Saya memang percaya hal itu, namun sementara ini belum ada yang bisa saya lakukan. Yang saya pikirkan ialah, bahwa seperti halnya perkembangan manusia, selain faktor genetik maka faktor fenotip (lingkungan) pun akan mempengaruhi. Sementara belum punya sepasang bibit yang dianggap unggul, ya sambil pelajari dan praktekkan faktor fenotip apa yang bisa dimainkan.
Saya pun memilih 8 ekor cupang betina. Saya pilih yang besar, dan/atau keluar warnanya, dan/atau "galak" alias sehat. Ada satu yang besar namun agak pucat, saya duga, ini baru dikawinkan. Cukup menarik juga melihat ikan-ikan cupang betina ini. Memang mereka ini biasanya ditempatkan dalam wadah sama, tidak dipisahkan per ekor seperti jantannya. Tentu saja cupang betina ini ada yang pemurka juga, gertak sana gertak sini sambil keluarkan warnanya yang cukup memukau (meski tak seindah cupang jantan). Tapi bedanya dengan cupang jantan, hampir tak ada perkelahian serius antar cupang betina. Biasanya mereka ini hanya saling gertak beberapa saat hingga ada salahsatu yang ngacir ketakutan, jadi tak sampai jadi bentrokan fisik yang mengakibatkan luka.
Ditambah beli alat serok 2 buah, dengan diskon, walhasil saya keluar uang saat itu Rp 75.000. Oke lets go home.
Tadi siang saya datangi toko ikan hias di bilangan Salabenda-Bogor. Lama saya disitu, mencari informasi dulu tentang ikan cupang, maklum sudah puluhan tahun,,, Akhirnya saya beli 4 ekor jantan dan 8 betina, hasil pemilihan yang cukup lama. Harga yang jantan Rp 15.000/ekor, dan yang betina Rp 2.000/ekor. Saya sungguh gelap soal harga. Di situ memang ada beberapa varian dengan variasi harga mulai dari Rp 3.000. Yang saya pilih memang yang paling mahal, ditempatkannya pun di dalam dengan wadah kaca besar, bukan toples bekas selai yang dipakai untuk ikan-ikan cupang yang lebih murah. Katanya, ini cupang adu bibit unggul. Oke lah, saya percaya aja dulu.
Ikan yang saya minati ialah ikan cupang tipe aduan, bukan ikan cupang hias. Kalo waktu kecil sih, saya tak pahami hal ini, semua diadu saja, wong ikutan anak-anak sekampung kok. Ternyata kini ada kategori hias dan aduan, mungkin kategori ini pun memang ada belakangan. Ada serit, maskot,,, apa lagi tuh, lupa. Ikan cupang aduan lah yang saya minati karena tipe inilah yang dulu memang menjadi favorit saya dan saat itu lebih dikenal sebagai "cupang bangkok", dan ikan cupang ini kalo diadu dengan yang non-bangkok, memang selalu menang. Selain itu, warnanya lebih saya suka, lebih tampak mengkilap, dengan bentuk rapi bagaikan kipas. Jadi saya pilih ikan cupang adu karena motif di atas, bukan mau adu-aduan lagi seperti waktu kanak-kanak.
Kata penjualnya, ikan-ikan cupang pada barisan yang saya pilih ialah satu indukan, alias bersodara semua. Dan induknya ialah bibit unggul yang masih turunan "luar". Saya pikir, wah, sayang dong ikan cupang ini gak kelihatan "wajah indo"-nya. Tapi namanya cupang tentu tak kenal sodara, kalo dibuka kertas pemisah antar toples pastilah pada timbul murkanya. Meski begitu, lama saya perhatikan, ada yang tampak sehat dan ada pula yang tampak kurang fit. Ada satu ekor yang akhirnya termasuk yang saya pilih, sebenarnya ukurannya lebih kecil daripada yang lainnya, tapi gayanya itu loh, meledak-ledak bangged, kemungkinan akan saya beri nama "Manihot".
Ikan cupang betina yang saya beli, ujar penjual jujur, bukan bibit unggul. Saya sempat sindir, kasih dong yang betina unggulnya, memang mau dijual berapa? Ia menggeleng, ini urusan bisnis katanya. Ternyata bukan cuma manusia, dalam urusan menjodohkan ikan cupang pun, faktor bibit-bebet-bobot harus amat diperhatikan jika memang urusannya bisnis. Saya memang percaya hal itu, namun sementara ini belum ada yang bisa saya lakukan. Yang saya pikirkan ialah, bahwa seperti halnya perkembangan manusia, selain faktor genetik maka faktor fenotip (lingkungan) pun akan mempengaruhi. Sementara belum punya sepasang bibit yang dianggap unggul, ya sambil pelajari dan praktekkan faktor fenotip apa yang bisa dimainkan.
Saya pun memilih 8 ekor cupang betina. Saya pilih yang besar, dan/atau keluar warnanya, dan/atau "galak" alias sehat. Ada satu yang besar namun agak pucat, saya duga, ini baru dikawinkan. Cukup menarik juga melihat ikan-ikan cupang betina ini. Memang mereka ini biasanya ditempatkan dalam wadah sama, tidak dipisahkan per ekor seperti jantannya. Tentu saja cupang betina ini ada yang pemurka juga, gertak sana gertak sini sambil keluarkan warnanya yang cukup memukau (meski tak seindah cupang jantan). Tapi bedanya dengan cupang jantan, hampir tak ada perkelahian serius antar cupang betina. Biasanya mereka ini hanya saling gertak beberapa saat hingga ada salahsatu yang ngacir ketakutan, jadi tak sampai jadi bentrokan fisik yang mengakibatkan luka.
Ditambah beli alat serok 2 buah, dengan diskon, walhasil saya keluar uang saat itu Rp 75.000. Oke lets go home.
Langganan:
Komentar (Atom)